CEO EXCHANGE

Konsep Pemasaran dalam tayangan CEO Exchange Leslie Moonves (CEO of CBS) and Alex Yemenidjian (CEO of MGM):

1. Penetrasi Pasar

CBS melakukan penetrasi pasar dengan memilih jam tayang serial televisi survivor pada kamis malam untuk meraih segmen generasi muda

2. Distribusi

Melihat perkembangan penggunaan sarana internet, CBS dan MGM  memanfaatkan media internet untuk pendistribusian produknya

3.Market Share

MGM memperluas market share nya dengan mengakuisisi Viacom

4. Defense terhadap kompetitor

CBS menerapkan konsep defense terhadap kompetitor dengan melindungi produknya dari kompetitor

5. Promosi

Dalam memasarkan atau mengiklankan setiap acara televisi dan film yang diproduksi, CBS maupun MGM melakukan promosi melalui media iklan

6. CSR

Konsep CSR diterapkan oleh MGM dengan membuat acara televisi yang bertanggung jawab terhadap kebudayaan negara dan pemikiran para generasi muda

Kalimat Inspiratif:

Alex Yemenidjian (CEO MGM): “Takut akan kegagalan membuat beliau berusaha lebih dan lebih keras lagi”

Posted in Uncategorized | Comments Off on CEO EXCHANGE

Marketing Management Class Discussion

Nur Oktalia D.A

Post Graduated Student of  MB-IPB Class of 39E

Pertanyaan :

Apakah ada faktor lain selain  penjualan, yang menjadi parameter bagi produsen untuk mengetahui bahwa produk atau merek yang dipasarkan telah mencapai positioning yang kuat di benak konsumen?

Jawaban:

Banyak faktor diluar dari penjualan yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam pengukuran ekuitas merek. Menurut Deborah MacInnis, “ekuitas merek dianggap sebagai nilai finansial dari pencerminan sebuah brand mencerminkan ke-efisienan dalam menarik dan mempertahankan merek”, dapat dilihat selain faktor penjualan,faktor-faktor lain seperti; Diferensiasi (inovasi perusahaan kepada pasar sasaran), Bauran pemasaran (taktik kreasi; memadukan tawaran perusahaan,logistik dan komunikasi) dan Maintanance terhadap produk merupakan faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan dalam pengukuran ekuitas merek tersebut. Hal ini dikarenakan, sebuah brand yang memiliki positioning yang sudah baik akan terus memperluas pangsa pasar yang baru dan mempertahankan konsumen / pangsa pasar yang lama.

Pertanyaan :

Sebutkan faktor-faktor lain (selain 5 faktor yang sudah dijelaskan) yang membahayakan/ menyebabkan utang merek?

Jawaban:

Berikut merupakan 5 faktor yang berpotensi membahayakan/ menyebabkan utang merk :

  • Customer dissatisfaction (seberapa tinggi tingkat komplain dari pelanggan)

Komplain,  bisa karena distribusi yang terlambat, komplain kerusakan produk, komplain pelayanan dan komplain mengenai kualitas.

  •  Environment problem  (Apakah menimbulkan masalah lingkungan)

Faktor ini menyangkut keselamatan kerja, penanganan limbah padat, cair  dan B3, juga menyangkut emission seperti carbon footprint (CO2), menyangkut water footprint, juga termasuk dengan aktivitas CSR perusahaan berjalan atau tidak, termasuk pada lingkungan sekitar.

  •  Product or Service Failures (Apakah kualitas produk rendah)

Faktor ini menyangkut  issue kontaminasi, issue quantity product (standard size produk), disfungsional produk, dan juga self life produk

  •  Lawsuits and Boycots ( Apakah perusahaan meghadapi masalah/kendala hukum)

Menyangkut  masalah hukum pendirian, patent, peraturan ijin produk, pendaftaran produk ke BPOM atau lembaga pemerintah, penipuan dll

  •  Questonable business Practices : Apakah ada ethical lapse (penurunan).

Berita negatif mengenai praktik-praktik bisnis yang tidak etis seperti kondisi kerja yg dipertanyakan

Selain lima faktor diatas, menurut kami ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan, yaitu :

  • Kegagalan alternatif investasi : Investor selalu mencari alternatif investasi yang memberikan return tertinggi pada tingkat resiko tertentu  (high risk high return).  Apabila terjadi kegagalan, maka akan meningkatkan passiva merek pada perusahaan tersebut
  • Kegagalan pada pasar saham : Apabila suatu perusahaan melakukan antisipasi yang salah pada perubahan harga saham jenis tertentu, maka tingkat pengembalian dan  jumlah asset pada perusahaan tersebut akan menurun, sehingga faktor ini dapat mempengaruhi utang.
  • Ketidaksiapan pada relevansi produk : suatu perusahaan harus siap ketika terjadi perubahan gaya hidup dan komposisi pada konsumen mereka. Apabila mereka tidak siap terhadap relevansi konsumen tersebut, maka akan meningkatkan passiva perusahaan seperti contoh yang terjadi pada perusahaan mobil mewah Cadillac.

Pertanyaan :

Dengan semakin berkembangnya sistem informasi teknologi, maka semakin marak pula iklan-iklan online yang ditampilkan di dunia maya. Menurut kelompok anda, bagaimana cara melakukan segmentasi agar iklan online tersebut efektif?

Jawaban:

Sebuah fakta menarik bahwa pertumbuhan pengguna internet di Indonesia sangatlah pesat, tahun 2002 pengguna internet di Indonesia 2,2 juta, tahun 2004 telah menjadi 11 juta user. Dan akhir tahun 2005 berkembang menjadi 16 juta user (www.apjii.or.id). Dengan perkembangan minimal 23 % pertahun. Ini artinya bahwa sebuah pasar yang sangat potensial bagi produsen yang bisa memanfaatkan peluang. Ini adalah pangsa pasar yang sangat besar. Bisa dibayangkan dan pikirkan, kira-kira menjadi berapa 2 tahun kedepan? (Kam Adi Dama, 2009)

Oleh karena itu menurut David Webb, Regional Managing Director of Advertising Solutions Nielsen, media sosial menjadi sebuah kegiatan yang semakin dominan di seluruh wilayah, dalam hal ini merek dapat dengan cepat terkenal melalui iklan mereka dengan melibatkan konsumen. Agar promosi melalui iklan online dapat berjalan efektif, maka diperlukanlah segmentasi pasar.

Segmentasi pasar merupakan suatu aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar yang homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku pembelian maupun gaya hidup. Salah satu keuntungan dari segmentasi pasar adalah lebih terfokusnya strategi pemasaran.

Salah satu hal yang diyakini cukup berperan penting dalam pemasaran adalah promosi barang ataupun jasa yang akan ditawarkan. Beberapa tahun belakangan ini media yang sedang trend digunakan sebagai ajang promosi ialah iklan online. Agar iklan online yang dibuat lebih efektif dan sesuai dengan sasaran pasar yang ingin dituju, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  • Segmentasi pengunjung website yang ingin dijadikan sebagai sasaran  iklan.
  • Iklan online yang dibuat ditempatkan pada website yang sesuai.
  • Sebaran pengunjung atau pembaca website.
  • Penempatan waktu iklan online yang tepat.

Hal ini dilakukan agar promosi melalui iklan online yang dilakukan tepat sesuai sasaran. Selain itu, setelah promosi dilakukan, maka yang perlu dilaksanakan yakni penguatan jasa layanan, agar konsumen yang mulai mencoba produk/layanan merasa terpuaskan. Hal ini penting, karena salah satu bentuk sistem pemasaran yang efektif ialah rekomendasi positif melalui “mouth to mouth” sebagai bentuk testimonial.

Pertanyaan :

Model persaingan seperti apa yang terjadi pada chocolate war dan seperti apa strateginya? Mengapa Hersey memasok coklat untuk Mars?

Jawaban:

Hersey merupakan Market Leader pada bisnis coklat dengan produk unggulannya yaitu “Milky Way”. Sedangkan sebagai pendatang baru, Mars memainkan peran sebagai Market Challenger pada bisnis yang sama. Sebagai Market Challenger, strategi yang dilakukan oleh Mars yaitu :

  • Tujuan dan musuh strategik :

Mars memilih strategi untuk menyerang pemimpin pasar. Strategi tersebut memang berisiko tinggi namun akan menimbulkan asumsi yang bagus apabila Hersey, sebagai Market Leader tidak dapat melayani pasar dengan baik.

  • Strategi serangan umum :

Frontal Attack, menyerang secara langsung dengan kampanye iklan besar-besaran

  • Strategi serangan khusus :

Product Proliferation, Product Innovation, Distribution Innovation, Intensive advertiing promotion

Pada mulanya Mars memang menggunakan bahan baku coklat yang diolah oleh Hersey, hal ini karena pada saat tersebut cukup sulit untuk membuat sendiri bahan baku coklat, investasi yang dibutuhkan pun cukup besar untuk membeli tekhnologi dan juga membangun pabrik pengolahan bahan baku coklat. Selain itu, Hersey dengan kapasitas pabrik pengolahannya yang besar  menjadikan harga coklat menjadi murah, hal-hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan Mars untuk membeli coklat dari Hersey. Bagi Hersey pun ini merupakan simbiosis mutualisme, karena Mars merupakan pembeli terbesar coklat Hersey.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Comments Off on Marketing Management Class Discussion

Chocolate War

CHOCOLATE  WAR 

Nur Oktalia D.A

Post Graduate student of MB-IPB Class of E39

 

Kata-kata yang menginspirasi :

“Chocolate is multi sensory and multidimensional”

Konsep Marketing :

Mempertahankan pangsa pasar (konsumen) dengan cara mempertahankan kualitas produk.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Chocolate War

STRATEGI PENETAPAN HARGA

Nur Oktalia Dwine A / P056110532.39e

Graduate student of MB-IPB Class of E39

Based on Book written bt Ujang Sumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C.Royke Singgih, Jusup Agus Sayono, Rico R Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009. Pemasaran Strategik: Strategi untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Share Holder Value). Jakarta. Inti Prima

STRATEGI PENETAPAN HARGA

Harga merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi  pemasaran suatu produk. Tinggi rendahnya harga selalu menjadi perhatian utama para konsumen saat mereka mencari suatu produk. Sehingga harga yang ditawarkan menjadi bahan pertimbangan khusus, sebelum mereka memutuskan untuk membeli barang maupun menggunakan suatu jasa. Dari kebiasaan para konsumen, dapat disimpulkan bahwa strategi penetapan harga sangat berpengaruh terhadap penjualan maupun pemasaran produk yang ditawarkan.

Penetapan harga dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni :

  1. Penetapan harga berbasis pasar (Market based pricing)
  2. Penetapan harga berbasis biaya (Cost based pricing)

Pada penetapan harga berbasis pasar harga didasarkan pada apa yang pelanggan inginkan dan bagaimana pesaing bereaksi. Dalam hal ini dibutuhkan data  pelanggan dan kompetitor yang mendalam. Tanpa data yang akurat mengenai kompetitor maka perusahaan akan sulit menempatkan posisi produk mereka dan apabila perusahaan mengabaikan kebutuhan konsumen maka yang terjadi adalah terjebaknya perusahaan dalam persaingan harga.

Penetapan harga berbasis biaya merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan dalam bisnis. Hal ini terutama karena data pelanggan maupun kompetitor susah untuk didapatkan. Meskipun market based pricing nampaknya pendekatan yang lebih baik dalam menetapkan harga bagi bisnis yang berorientasi pasar, tapi ada situasi-situasi ketika cost based pricing merupakan pendekatan yang cocok. Pada cost based pricing, harga didasarkan pada biaya produksi suatu produk/jasa dan margin yang diinginkan. Berdasarkan harga tersebut harga ditetapkan dan disalurkan ke pihak ketiga yang akan me-mark up harga ke tingkat yang mereka inginkan.

 

Posted in Uncategorized | Comments Off on STRATEGI PENETAPAN HARGA

Product Positioning dan Market Share

Nur Oktalia Dwine A / P056110532.39e

Graduate student of MB-IPB Class of E39

Based on Book written bt Ujang Sumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C.Royke Singgih, Jusup Agus Sayono, Rico R Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009. Pemasaran Strategik: Strategi untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Share Holder Value). Jakarta. Inti Prima

Product Positioning dan Market Share

Dalam ilmu pemasaran, positioning adalah cara yang dilakukan oleh pemasar untuk membangun citra atau identitas di benak konsumen untuk produk, merek atau lembaga tertentu.  Positioning adalah membangun persepsi relatif satu produk dibanding produk lain. Karena penikmat produk adalah pasar, maka yang perlu dibangun adalah persepsi pasar. Reposisi produk sangat ditentukan dari sudut pandang mana konsumen melihat citra produk kita, apabila kita menerapkan family branding dalam mengembangkan produk, maka keseluruhan citra perusahaan akan sangat mempengaruhi citra produk.

Repositioning merupakan kegiatan yang melibatkan penggantian identitas produk, jalinan kompetitor yang ada, dan mengubah citra yang ada di benak konsumen

Depositioning merupakan kegiatan untuk mengganti jalinan kompetitor, tujuannya adalah untuk mengganti segmen pasar dan kegiatan ini mengharuskan pemilik merek untuk mengubah citra produk yang ada di benak konsumen.

 

Sasaran dari strategi positioning adalah membuat satu posisi product price yang atraktif untuk pelanggan target dan membuat sumber yang baik bagi cash flow bisnis. Meraih level tertentu dari market share adalah faktor kunci kesuksesan dalam strategi pemasaran yang secara langsung bergantung pada kekuatan dari positioning product dan marketing effort. Seperti yang ditunjukan padagambar diatas, market share ditunjukkan sebagai product position dikalikan dengan marketing effort. Oleh karena itu, ketika product position lemah digabungkan dengan marketing effort yang kuat, level market share yang didambakan akan gagal dicapai. Hal yang sama ketika satu product position yang atraktif tetapi marketing effortnya lemah, akan juga gagal untuk mencapai level market share yang diinginkan. Untuk menjadi sukses, suatu bisnis memerlukan keduanya.

Terlihat juga di gambar diatas, berbagai faktor yang berkontribusi kepada satu product position dan market effort dalam bisnis. Diferensiasi produk, harga, perluasaan produk, produk baru, kualitas pelayanan, dan brand image, masing-masing berkontribusi untuk menjadi kekuatan dari keseluruhan product position suatu bisnis. Input-input tersebut menjadikan suatu produk lebih baik dalam menghadapi kompetitor-kompetitor, kekuatan dari product position meningkat dan menjadi lebih atraktif untuk pelanggan target.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Product Positioning dan Market Share

TUGAS SIM

Apple, Microsoft, IBM, and Others :

Touch-screen tech comes of age

The WIMP human-computer interface may have an uninspiring name, but Windows, Icons, Menus and Pointing devices have dominated computing for some 15 years. The keyboard, mouse and display screen have served users extraordinarily well.

Now the hegemony of WIMP may be coming to an end, say developers of technologies based on human touch and gesture. For evidence, look no further than Apple’s one-year-old iPhone. From a human-interface point of view, the combined display and input capabilities of the iPhone’s screen, which can be manipulated by multiple fingers in a variety of intuitive touches and gestures, is nothing short of revolutionary.

The iPhone isn’t the only commercial device to take the human-computer interface to a new level. The Microsoft Surface computer puts input and output devices in a large, table-top device that can accommodate touches and gestures and even recognize physical objects laid on it. And the DiamondTouch Table from Mitsubishi Electric Research Laboratories (MERL) is a touch- and gesture-activated display that supports small group collaboration. It can even tell who is touching it.

These devices point the way toward an upcoming era of more natural and intuitive interaction between human and machine. Robert Jacob, a computer science professor at Tufts University in Medford, Mass., says touch is just one component of a booming field of research on “post-WIMP interfaces,” a broad coalition of technologies he calls reality-based interaction.

Those technologies include virtual reality, context-aware computing, perceptual and affective computing, and tangible interaction — in which physical objects are recognized directly by a computer

“What’s similar about all these interfaces is that they are more like the real world,” Jacob says.

For example, the iPhone “uses gestures you know how to do right away, such as touching two fingers to an image or application, then pulling them apart to zoom in or pinching them together to zoom out” These actions have also found their way into the iPod Touch and the track pad of the new MacBook Air “Just think of the brain cells you don’t have to devote to remembering the syntax of the user interface. You can devote those brain cells to the job you are trying to do,” Jacob adds. In particular, he says, the ability of the iPhone to handle multiple touches at once is a huge leap past the single-touch technology that dominates in traditional touch applications such as ATMs.

Although they have not gotten much traction in the marketplace yet, advanced touch technologies from IBM may point a way to the future. In its Everywhere Displays Project, IBM mounts projectors in one or more parts of an ordinary room and projects images of “touch screens” onto ordinary surfaces, such as tables, walls or the floor. Video cameras capture images of users touching various parts of the surfaces and send that information for interpretation by a computer. The touch screens contain no electronics — indeed no computer parts at all –so they can be easily moved and reconfigured.

A variation on that concept has been deployed by a wine store in Germany, says Claudio Pinhanez at IBM Research. The METRO Future Store in Rheinberg has a kiosk that enables customers to get information about the wines the store stocks. But the store’s inventory was so vast customers often had trouble finding the particular wine they wanted on the shelf. They often ended up buying a low-margin wine in a nearby bin of sales specials, Pinhanez says. But now the kiosk contains a “show me” button which, when pressed, shines a spotlight on the floor in front of the chosen item.

IBM is also working on a prototype system for grocery stores that might, for example, illuminate a circle on  the floor that asks, “Do you want to take the first steps toward more fiber in your diet?” If the customer touches “yes” with his foot, the system projects footsteps to the appropriate products — high-fiber cereal, say. “Then you could make the cereal box itself interactive,” Pinhanez says. “You touch it, and the system would project information about that box on a panel above the shelf. “Asked if interactive cereal boxes might be a solution in search of a problem, Pinhanez says, “The point is, with projection and camera technology you can transform any everyday object into a touch screen.” He says alternatives that are often discussed — a store system talks to customers through their handhelds, for example — are hard to implement because of a lack of standards for the technology.

Microsoft is working with several commercial partners, including Starwood Hotels & Resorts Worldwide Inc., to introduce Surface, which is due to ship in the spring. It will initially target leisure, entertainment and retail applications, says Mark Bolger, director of marketing for Surface Computing. For example, he says, one could imagine a hotel guest using a “virtual concierge” in a Surface computer in the lobby to manipulate maps, photos, restaurant menus and theater information.

Some researchers say that a logical extension of touch technology is gesture recognition, by which a system recognizes hand or finger movements across a screen or close to it without requiring an actual touch. “Our technology is halfway there,” IBM’s Pinhanez says, “because we recognize the gesture of touching rather than the occlusion of a particular area. You can go over buttons without triggering them.”

Touch technology in its many variations is an idea whose time has come, Baudisch says. “It’s been around a long time, but traditionally in niche markets. The technology was more expensive, and there were ergonomic problems,” he says. “But it’s all kind of coming together right now.” The rise of mobile devices is a big catalyst, he says, with the devices getting smaller and their screens bigger. When a screen covers the entire device, there is no room for conventional buttons, he points out. And that will give impetus to other types of interaction, (such as voice,)

 Of course, researchers and inventors have envisioned even larger touch displays, including whole interactive walls. A quick YouTube search for “multitouch wall” shows that a number of these fascinating devices have reached the prototype stage, entrancing multitudes at technology conferences to be entranced. Experts predict that this is just the beginning.

Pradeep Khosla, professor of electrical and computer engineering and robotics at Carnegie Mellon University in Pittsburgh, says touch technology will proliferate, but not by itself. “When we talk face to face, I make eye gestures, face gestures, hand gestures, and somehow you interpret them all to understand what I am saying. I think that’s where we are headed,” he says. “There is room for all these things, and multimodal gestures will be the future.”

“There’s been this notion that less is more — you try to get less and less stuff to reduce complexity,” he says. “But there’s this other view that more is actually less — more of the right stuff in the right place, and complexity disappears.” In the office of the future, Buxton predicts, desktop computers might be much the same as they are today. “But you can just throw stuff, with the mouse or a gesture, up onto a wall or whiteboard and then work with it with your hands by touch and gesture standing up. Then you’ll just pull things into your mobile and have this surface in your hand. The mobile, the wall, the desktop — they are all suitable for different purposes.”

Will that be the end of the WIMP interface? Tufts’ Jacob advises users not to discard their keyboards and mice anytime soon. “They really are extremely good,” he says. “WIMP almost completely dislodged the command-line interface. The WIMP interface was such a good invention that people just kind of stopped there, but I can’t believe it’s the end of the road forever.”

Buxton agrees. “WIMP is the standard interface going back 20-plus years, and all the applications have been built around that,” he says. “The challenge is, without throwing the baby out with the bath, how do we reap the benefits of these new approaches while preserving the best parts of the things that exist?”

Case Study Questions

  1. What benefits may starwood hotels derive from the introduction of touch screen technology as noted in the case? What possible disruption may occur as a result. Provides several examples of each

Keuntungannya ialah dengan menggunakan touch screen technology seorang tamu hotel bisa mendapatkan pelayanan dari “penerima tamu virtual” di layar komputer di lobi untuk memanipulasi peta, foto, menu restoran maupun informasi teater. Hal tersebut membuat komunikasi menjadi lebih mudah dan efisien. Selain itu dengan jumlah yang cukup (atau koneksi dari kamar) maka hotel akan mampu melayani tamu dengan jumlah lebih banyak secara bersamaan. Selain itu sistem juga  dapat diprogram untuk mendukung berbagai bahasa sehingga penggunaannya lebih mudah untuk tamu dari berbagai macam bangsa.

Gangguan yang mungkin timbul adalah apabila ada permintaan tamu yang cukup kompleks maka sistem tidak akan mampu melakukan pelayanan sebaik pelayanan yang di lakukan oleh manusia. Selain itu banyak dana yang perlu dikeluarkan/dihabiskan untuk investasi pada perangkat keras, perangkat lunak, pemeliharaan program dan dukungan pengguna. Sedangkan sumberdaya manusia menjadi tidak terlalu di butuhkan lagi.

  1. Bill Buxton of Microsoft stated that “(t)ouch now may be where the mouse was in about 1983.” What do you make of his comments, and what do you think it would take for touch technology to displace the WIMP interface? Justify your answer.

Pernyataan Bill Buxton mungkin mengacu pada perkembangan, karena pada tahun 1983 “mouse” sedang dalam masa perkembangannya dan belum di support oleh aplikasi –aplikasi lainnya sehingga dalam teknis penggunaannya banyak mengalami gangguan. Dan sekarang “Touch screen technology” sedang mengalami masa (siklus) tersebut.

Untuk dapat menggantikan “WIMP” maka langkah-langkah yang harus dilakukan ialah harus memadukan setidaknya satu sistem operasi utama, menurunkan biaya (karena “mouse” harganya murah), “plug-dan-play” langsung ke workstation yang ada.

Justifikasi : “WIMP tech” lepas landas ketika  apel dan microsoft memasukkan WIMP ke dalam sistem operasi mereka seperti halnya ketika produsen PC meproduksi soket dan juga mouse murah lainnya di mesin mereka.

  1. Is advenced touch screen technology really a solution in search of a problem? Do you agree with this statement? Why or why not?

Tidak Setuju, karena pada dasarnya “advenced touch screen technology” hanya terdiri atas intrepretasi video data dan juga teknologi ini masih dalam tahap awal perkembangannya sehingga masih memerlukan tambahan dari aplikasi-aplikasi lainnya. Dan bagaimanapun juga kebutuhan manusia akan selalu meningkat dari waktu ke waktunya. Selain itu juga penggunaan touch screen tech hanya mempermudah pemakaian komputer, tetapi tidak menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah.

Posted in Uncategorized | Comments Off on TUGAS SIM